Selasa, 30 April 2013

Revolusi Suriah




REVOLUSI SURIAH







Pasca gejolak yang terjadi di Tunisia dan Mesir, kini gejolak tersebut merambat ke Negara-negara tetangganya. Bagaikan api yang membakar rumput di musim kemarau, perlahan tapi pasti api itu akan melahap seluruh daratan. Begitupun dengan gejolak yang terjadi di Negara-negara Arab saat ini. Bahkan sebuh media mengatakan bahwa gejolak terjadi sepanjang Maroko sampai Oman. Namun yang paling mencuri perhatian adalah gejolak yang terjadi di Suriah. Krisis yang terjadi di Suriah ini tergolong pada gejolak yang cukup lama. Dimulai sejak Maret 2011 dan entah sampai kapan gejolak ini akan terus berlangsung.

            Jika kita lihat sekilas sejarah kepemimpinan di Suriah, maka memang menjadi kewajaran Suriah mengalami gejolak yang berbeda dari gejolak yang terjadi sebelumnya. Kurang lebih selama 40 tahun rezim bapak-anak keluarga Hafez Al-Assad berkuasa dengan kediktatorannya. Kediktatoran tersebut berlangsung hingga saat ini di kepemimpinan Bassar Al-Assad. Penduduk Negara Suriah ditekan dengan kekuasaan yang dimilikinya. Ditambah lagi dengan dukungan penuh militer Suriah terhadap Bassar Al-Assad. Ini juga mungkin yang menjadi penyebab lamanya gejolak yang terjadi di Suriah. Saking carut marutnya Suriah, bahkan Kofi Annan pun mundur dari jabatannya di PBB hanya karena merasa gagal menyelesaikan konflik yang terjadi di sana. Bukan hanya itu, Negara-negara yang tergabung dalam liga Arab pun tak bisa berkutik dengan apa yang terjadi di Suriah.





            Letak perbedaan yang paling kentara dari gejolak Suriah ini bukanlah hanya karena militernya yang kuat dan pro pemerintahan, tapi siapa saja yang terlibat dalam konflik ini yang menjadi pembeda. Jika dulu yang terjadi di Tunisia dan Mesir merupakan konflik antara penguasa dan opisisi beserta para Negara pembacking masing-masing saja, tapi di Suriah tidak hanya itu. Memang yang selama ini terexpose hanya konflik antara Rezim Assad dengan Rusia dan Cina-nya serta oposisi dengan Amerika dan Inggris-nya. Padahal jika melihat fakta langsung di lapangan, suara oposisi pun terpecah menjadi dua. Bukan hanya sekedar kelompok yang menginginkan pemerintahan yang demokratis, tapi di dalamnya pun ada sekelompok pejuang yang menginginkan pemerintahan Islam. Jadi dapatlah kita simpulkan ada tiga kepentingan ideologis di sana. Sosialis (Rezim Assad, Rusia dan Cina), Kapitalis (Oposisi, Amerika dan Inggris) serta Islam (Pejuang Islam).


         Sosialis dan Kapitalis berlomba-lomba berpacu dengan waktu agar bisa menancapkan kepentingannya di Suriah. Namun tak bisa dipungkiri, suara rakyat yang menginginkan diterapkannya aturan islam pun semakin membahana. Tuntutan itu bak sporadis yang terus digaung-gaungkan. Tinggal tunggu tanggal main, apakah Islam akan kembali membumi di Suriah, di tanah Syam yang Rasul janjikan. Namun yang jelas, semangat juang kaum muslimin dari zaman Rasulullah sampai kapan pun tidak akan pernah surut untuk mencapai cita-cita yang mulia dengan tegaknya syariat Islam di bumi Syam tanah anbiya yang diberkahi Alloh SWT.
Wallohu’alam bi ashowab.






0 komentar:

Posting Komentar