REVOLUSI SURIAH
Pasca
gejolak yang terjadi di Tunisia dan Mesir, kini gejolak tersebut
merambat ke Negara-negara tetangganya. Bagaikan api yang membakar rumput
di musim kemarau, perlahan tapi pasti api itu akan melahap seluruh
daratan. Begitupun dengan gejolak yang terjadi di Negara-negara Arab
saat ini. Bahkan sebuh media mengatakan bahwa gejolak terjadi sepanjang
Maroko sampai Oman. Namun yang paling mencuri perhatian adalah gejolak
yang terjadi di Suriah. Krisis yang terjadi di Suriah ini tergolong pada
gejolak yang cukup lama. Dimulai sejak Maret 2011 dan entah sampai
kapan gejolak ini akan terus berlangsung.
Jika
kita lihat sekilas sejarah kepemimpinan di Suriah, maka memang menjadi
kewajaran Suriah mengalami gejolak yang berbeda dari gejolak yang
terjadi sebelumnya. Kurang lebih selama 40 tahun rezim bapak-anak
keluarga Hafez Al-Assad berkuasa dengan kediktatorannya. Kediktatoran
tersebut berlangsung hingga saat ini di kepemimpinan Bassar Al-Assad.
Penduduk Negara Suriah ditekan dengan kekuasaan yang dimilikinya.
Ditambah lagi dengan dukungan penuh militer Suriah terhadap Bassar
Al-Assad. Ini juga mungkin yang menjadi penyebab lamanya gejolak yang
terjadi di Suriah. Saking carut marutnya Suriah, bahkan Kofi Annan pun
mundur dari jabatannya di PBB hanya karena merasa gagal menyelesaikan
konflik yang terjadi di sana. Bukan hanya itu, Negara-negara yang
tergabung dalam liga Arab pun tak bisa berkutik dengan apa yang terjadi
di Suriah.
Letak
perbedaan yang paling kentara dari gejolak Suriah ini bukanlah hanya
karena militernya yang kuat dan pro pemerintahan, tapi siapa saja yang
terlibat dalam konflik ini yang menjadi pembeda. Jika dulu yang terjadi
di Tunisia dan Mesir merupakan konflik antara penguasa dan opisisi
beserta para Negara pembacking masing-masing saja, tapi di Suriah tidak
hanya itu. Memang yang selama ini terexpose hanya konflik antara Rezim
Assad dengan Rusia dan Cina-nya serta oposisi dengan Amerika dan
Inggris-nya. Padahal jika melihat fakta langsung di lapangan, suara
oposisi pun terpecah menjadi dua. Bukan hanya sekedar kelompok yang
menginginkan pemerintahan yang demokratis, tapi di dalamnya pun ada
sekelompok pejuang yang menginginkan pemerintahan Islam. Jadi dapatlah
kita simpulkan ada tiga kepentingan ideologis di sana. Sosialis (Rezim
Assad, Rusia dan Cina), Kapitalis (Oposisi, Amerika dan Inggris) serta
Islam (Pejuang Islam).
Sosialis dan Kapitalis berlomba-lomba berpacu
dengan waktu agar bisa menancapkan kepentingannya di Suriah. Namun tak
bisa dipungkiri, suara rakyat yang menginginkan diterapkannya aturan
islam pun semakin membahana. Tuntutan itu bak sporadis yang terus
digaung-gaungkan. Tinggal tunggu tanggal main, apakah Islam akan kembali
membumi di Suriah, di tanah Syam yang Rasul janjikan. Namun yang jelas,
semangat juang kaum muslimin dari zaman Rasulullah sampai kapan pun
tidak akan pernah surut untuk mencapai cita-cita yang mulia dengan
tegaknya syariat Islam di bumi Syam tanah anbiya yang diberkahi Alloh
SWT.
Wallohu’alam bi ashowab.








0 komentar:
Posting Komentar